Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Warung Dipojokan

Dalam deretan bangku panjang Senada dalam cerita yang keluar Dari para pembuang penat disiang dan di malam bahkan pagi pun demikian Dalam rentetan bangku yang panjang saksi bisu bertelinga setia akan cerita kehidupan Pada para buruh bangunan Pada para guru honorer Pada siswa bengal yang membolos ditengah pelajaran Bersatu memadu dalam kegamangan Yang lebur dalam gelas gelas penyegar dan kudapan pelepas penat. Dihadapan bangku yang merentet Disitulah telinga dipasang dan peluk dihampar Bagi mereka yang ingin meratap akan suka duka kehidupan Yk,22 Mei 2014 Dalam deretan bangku panjang Senada dalam cerita yang keluar Dari para pembuang penat disiang dan di malam bahkan pagi pun demikian Dalam rentetan bangku yang panjang saksi bisu bertelinga setia akan cerita kehidupan Pada para buruh bangunan Pada para guru honorer Pada siswa bengal yang membolos ditengah pelajaran Bersatu memadu dalam kegamangan Yang lebur dalam gelas gelas penyegar dan kudapan pelepas penat. ...

Sajak Galau Kemarin

Kemarin Kemarin adalah waktu  waktu sebelum sekarang sekarang adalah cerita cerita dimana musabab nya adalah kemarin kemarin adalah duka meski kemarin pun berisi suka Kemarin banyak mudi muda terutama mereka yang baru Sma Puluhan cerita dan suka dihampar pada angan Yang mereka hias pula dengan ribuan cita dan kesenangan masa depan Namun kemarin tetaplah kemarin Takdir tak dapat diukir oleh tangan makhluk Segala angan dan cita yang terkadang muluk Kini semua hanya terpendam dan meringkuk Kemarin adalah kemarin Ingin kucerita pada kalian wahai pemuda Walau daku pun muda (keliatannya) Bahwa samudra nan luas Bumi nan lebar Hamparkan ribuan cerita dan misi misi petualangan Tak hanya suka duka semu yang kau goreskan pada angan Ya, ini hanya coretan.  Coretan tentang olokan  Padaku Dua tahun yang lalu Yogya, 28 Mei 2014

YuReCkA

Bilakah ingin kau tahu Masa paling terkenang di era abu-abu Adalah ketika aku pertama masuk Tak seberapa lama setelah masa penggojlogan Awalnya kutemukan titik keraguan Akankah aku kuat bertahan Namun nyatanya Tuhan telah hamparkan jalan Bagiku takdir untuk berlalang *** Suatu cerita sehabis gojlogan Semua tamtama diberi kelonggaran Memilih ini itu sebagai penambah Ilmu buta dipagi hari yang nyatanya terlalu mentah Kupilih satu serikat di selasa siang Tempat para serdadu berbaju merah terang Awalnya ku terpesona akan merahnya Tunjukan warna superhero paling utama Keraguan ini awalnya tinggi Ketiak kulihat disana hanya sedikit lelaki Namun semua itu kian samar Berganti jadi nafas penuh pengabdian *** Sebuah serikat berwarga tak seberapa Sikapnya konyol tak punya jumawa Para petinggi rendahkan hati Hobi gembira, tiada luka dalam sepi Mereka bertuan di ruang tak seberapa Dirumah yang amat bersahaja Disanalah lahir arti kerjasama Yang terbina dan terjal...

Bahasa ku

Selalu ada kata bergeming Selalu ada caci seruak Atau cibir nan nyinyir Tatkala dulu anak-anak hendak memilihmu Atau dipilih olehmu Yah, Nampaknya memang suratan takdir Dan Tuhan memang Maha Adil Selalu beri Problema Jadikan kalian insan nan Bijaksana Dulu orang selalu berkata Untuk apa masuk kesana Bisa-bisa masa depanmu hilang sirna aih, terlalu kejam, mungkin lebih tepat kukata samar saja Bila kau dulu yang sempat merasa Pelajari Sisi-sisi budaya Mencoba interaksi dengan banyak pemilik belahan dunia Pelajari seni lewat mimpi-mimpi Belajar keragaman, santun dalam toleransi Sekarang pikirpun melayang Bukankah segala takdir milik Sang Hyang Dapatkah manusia menghakimi Sedang dia tak lebih dari noktah dititik sepi Merenung pada satu masa silam Ketika kami larut dalam kesendirian Mencoba berdikari dengan cara kami sendiri Membiarkan segala topan menghempas, dan karang menjulang Suatu hari disudut itu Tempat segala ceritera lahir dan bereproduksi Akan ber...

Memindai rasa

Rasaku Aku terdiam membisu diantara jalanmu Aku hilang arah, aku lelah Pada sangkaku aku mudah memindaimu Aku mudah mencari dimana kau berada Walau kau sembunyi diantara celah tersempit Diantara jurang menghimpit sekalipun Namun kini berbeda. Rasaku Dimanakah kau kini berasa Ketika ide dan ide tak lagi mengena Aku hilang asa Aku berusaha menuliskan engkau lewat tinta tinta Tapi selama itu pula tinta meresap Ia lewat Dan aku sendiri dalam kehampaan Aku tak tahu apa yang ku pikirkan Yogyakarta, 25 April 2014

Ceritera Dibalik Bulan purnama

Yo Prakanca dolanan ning jaba Padang bulan, bulane kaya rina Rembulane , sing awe-awe Ngelingake aja padha turu sore Terkatup mataku rasakan desiran angin Membawa ceritera dari masa paling jenaka Wajah lugu,tingkah ceria Dimana tiada kesusahan dan juga dosa Cublak-cublak suweng Suwenge Ting gelenter Mambu kesundung gudhel Tak empong lera-lere Sopo ngguyu ndelikake ..Sir-Sir pong dele gosong ..Sir-sir pong dele gosong Tawa-tawa kecil meriuh rendah dari mulut anak-anak periang bersama dendangkan nada diluasnya kisah sehabis senja Jamuran, yo gegethok Jamur opo, Yo gegethok Jamur kuping, njeping saoro-oro Sira bedhek....Jamur opo? Kaki kecil kami berlari tiada henti Membawa tawa yang selalu selimuti Malam benderang ini hadirkan panggung gembira bagi anak-anak dilapangan desa Oh adhiku, kekasihku Ora pareng nangis Ayo dolan, karo aku Ana ngisor uwit jambu Sedhelok maleh, ibu kondur Ngasta oleh-oleh Gedhang goreng, karo roti Mengko diparingi.... Te...

Suatu Sore di Jatayu

Suatu Sore kuingat suatu tempat Tempat suatu ceritera pernah mencuat perlahan mengaliri lagi kanal-kanal yang kering dan mati Mati karena waktu, mati karena rindu Perlahan nanar ini susuri lagi wajah-wajah lugu wajah-wajah mengenang dan terbayang pada rindu Ah, sepertinya wajah-wajah itu telah mati suri selama sewindu Atau aku yang terlalu kaku ? hingga wajah-wajah kenangan itu aku rendam dalam sendu Suatu Hari di Jatayu Wajah manis bermata sipit menggandeng tanganku kukenal dia sebagai kasih Walau sulit kuterka itu asli atau palsu Kini dalam pendulum yang berjalan maju Mata sipit itu kembali bertatap dengan mataku mengenang masa-masa kisah kasih Dimana ceritera berhembus hamburkan rasa, Seperti daun-daun jingga musim gugur Mengikut arus angin romantis Jatayu, Jalan Cendrawasih, Sewindu yang lalu Kuputar lagi memoir memoir, laksana dejavu Diantara kisah tangan tergamit, aku dan gadis bermata sipit Dulu ku rengkuh tangannya kini hadirnya rengkuhkan cerita Ba...
Ketika orang mendengar kata baca, seringkali orang memaknai sempit dengan mengeja dan berusaha memahami sekumpulan huruf, rangkaian kata atau gabungan kalimat. Namun orang seringkali lupa bahwa membaca tak hanya terbatas pada mata, pada kertas atau pada tulisan dan tinta tinta. Cobalah kau tengok alam, kau pahami, kau resapi. Maka itu adalah bagian dari aktivitas membac a. Cobalah kau tengok jiwa, kau pahami, kau dalami. Itu juga aktivitas membaca. Dari situlah muncul frasa membaca situasi, membaca perasaan, membaca hati.  Kala arti membaca dipersempit, demikian pula sikap dan pemikiran kita akan menyempit. Kita akan mudah menjustis itu salah itu benar, itu buruk itu baik. Termasuk banyak orang menafsirkan bahwa buku itu itu membikin ngantuk,tulisa n adalah zat paling mujarab bagi orang susah tidur. Mari kawan, mari mencoba. Membaca dan mengerti serat serat tersirat dari Yang Maha Kuasa disekitar kita. Angin mendesir, mendung menggaung, pohon bergoyang. Bagi mereka yang tak pe...

Kisah Cinta Pohon dan lampu taman

(Untukmu memori 4 tahun yang lalu) Petang selimuti alam Nona bulan pancarkan pendar-pendar penghias kelam Dalam hitam yang menghias malam Hancurkan ego naluri berpantang Malam kelam disudut taman Tiang lampu tegakkan badan Pancarkan cahya halau kegelapan Walau ironis penuh pergunjingan "Wahai lampu taman, akankah kau berlarut dalam kesendirian" Tanya sebatang perdu yang menua "Tiada yang mau akan dirinya, lihatlah dia ! setiap siang tiada guna !" Hardik setangkai mawar mempesona Sang lampu tersenyum kecut Hati kecilnya carut marut Dalam hati dia berkata "Tuhan, aku percaya. pintaku akan engkau kabulkan" *** Embun pagi membalut sepi Walau sang surya berusaha pancarkan ceria dipagi ini Sang tiang terjaga dari tidurnya Melihat sesosok malaikat penjaga "Apakah Tuhan kabulkan mimpiku" "Benar aku disini menemanimu selalu" Sapa sang malaikat penjaga "Tapi kau pohon, dan aku tiang lampu" "Tak akan...

Roti Manis

“Mas, mas bangun mas sudah ashar” “Hemm, bentar lagi deh. Masih capek banget ini” “Ke masjid dulu lah mas,nanti tidurnya disambung lagi” “Iya-iya,ini jalan deh” Dengan malas kusambar sarung dan baju koko di belakang pintu dan segera menuju masjid. Rasanya hari itu malas sekali untuk bangun, bahkan mengambil wudhu di rumah pun terasa amat berat jadi kuputuskan untuk mengambil air wudhu di masjid saja. Aku sendiri masih kurang percaya bisa selelah ini, padahal perjalanan Yogyakarta ke kotaku telah sering kutempuh. Memang jauh kurasa, namun biasanya waktu lima jam sungguh tidak terasa diperjalanan. Apakah ini pengaruh puasa? Ah,pantang bagiku menyalahkan bulan istimewa itu. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” Alhamdulillah,bisa melalui sore ini dengan sujud kepada Allah SWT. Ku akhiri persembahan ku tadi dengan doa lalu beranjak pulang. “eL,tunggu dong” kudengar robi, teman sekampungku memanggil. “Ada apa rob” ...

Memulai dengan yang lama tapi baru

Manusia adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk belajar dan melangkah. Karena memang demikian hakikatnya kehidupan mereka didunia. Seperti itu pula denganku sebagai makhluk yang tercipta punya kaki dan punya tangan. Dahulu aku sudah punya akun dari blog macam ini, hehehe namun karena keterbatasan ilmu teknologi akhirnya akun inipun hilang musnah dan tak terlacak jejaknya. Kini kucoba mulai lagi membuat akun di google ini. Harapanku ini sebagai wadah imajinasi, belanga-belanga ide dan juga tong-tong sampah keluh kesah (semoga yang terakhir tidak). Hahahaha, apapunlah tujuannya. Saya hanya berharap blog ini bisa menjadi wadah agar bisa hidup dan saling bantu antar sesama. Maka dengan resmi saya luncurkan akun Blog tanpa Go (Iyalah, nanti jadi Go-blog) ini dengan suka-cita, suka-rela. Mohon dibantu yaa :-D Hehehe, TTD (Yang Punya Akun)