Langsung ke konten utama

Roti Manis

“Mas, mas bangun mas sudah ashar”
“Hemm, bentar lagi deh. Masih capek banget ini”
“Ke masjid dulu lah mas,nanti tidurnya disambung lagi”
“Iya-iya,ini jalan deh”

Dengan malas kusambar sarung dan baju koko di belakang pintu dan segera menuju masjid. Rasanya hari itu malas sekali untuk bangun, bahkan mengambil wudhu di rumah pun terasa amat berat jadi kuputuskan untuk mengambil air wudhu di masjid saja. Aku sendiri masih kurang percaya bisa selelah ini, padahal perjalanan Yogyakarta ke kotaku telah sering kutempuh. Memang jauh kurasa, namun biasanya waktu lima jam sungguh tidak terasa diperjalanan. Apakah ini pengaruh puasa? Ah,pantang bagiku menyalahkan bulan istimewa itu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Alhamdulillah,bisa melalui sore ini dengan sujud kepada Allah SWT. Ku akhiri persembahan ku tadi dengan doa lalu beranjak pulang.

“eL,tunggu dong” kudengar robi, teman sekampungku memanggil.
“Ada apa rob” jawabku santai
“Lemes banget, jadi pengantin baru jangan seperti itulah”
“Ha,pengantin. Kelakarmu kurang lucu, aku masih sayang nyawa. Ga mau ikut bom bunuh diri kayak gitu”
“Ini serius, kamu amnesia atau memang masih tidur sih”
“Kamu sendiri kali yang ngelantur, aku rasa aku masih cukup waras sampai saat ini” jawabku sedikit keheranan dengan tetangga jauhku ini.
“Sudahlah, sulit ngomong sama orang ngantuk” Dia lalu beranjak meninggalkan aku. Aku sendiri masih sangat bingung sebenarnya, pengantin baru? Terakhir aku cek ktp statusku masih belum kawin. Apa aku dicuci otak oleh teroris di perjalanan pulang tadi dan jadi buron. Karena jujur dijalan tadi aku memang merasa sangat mengantuk sampai hampir tertidur.

“Assalamualaikum” kataku ketika masuk kerumah.
“Wallaikumsalam” jawab seseorang dari dapur,suaranya jelas seorang wanita tetapi bukan ibuku. Aku berjalan menuju dapur, menghampiri sumber suara sambil waspada. Barangkali itu suara kuntilanak yang lepas dari belenggu dan sedetik kemudian aku dibuat terbengong-bengong.

“Haa, Via kenapa kamu disini?” Jawabku terheran-heran. Namanya Via, saat ini dia memang menjabat sebagai teman dekatku. Namun buat apa dia kesini.
“Kamu kenapa mas, datang-datang kok kayak terkejut campur bingung gitu. Masih ngantuk ya, jawabnya sambil tersenyum. Terlihat sibuk mengolah adonan di atas meja.
“Kamu ngapain disini. Ibu sama adiku kemana?”
“Kan mereka sedang ketempat bulekmu mas,bukannya mereka pamit ke kamu kemarin. Lagian kan aku istrimu, ya sepantasnya lah aku ada disamping suamiku” jawabnya terheran-heran. Aku sendiri semakin terheran-heran, mukaku semakin bingung. Ku lihat di dinding rumah, terdapat beberapa foto pernikahan dan kami selalu menjadi objek utama foto tersebut. Dua sejoli dengan pakaian jawa modern berwarna ungu dengan aksen jilbab berhias bunga di kepala Via.

“Aku merasa terakhir kali melihat KTP statusku belum menikah Vi, aku yakin ini pasti mimpi”
Via hanya tersenyum,lalu berjalan mengambil dompet yang tergeletak diatas meja dan mengambil ktp ku.
“Ini yang mas anggap belum kawin” disodorkan ktp yang bertuliskan secara jelas “Kawin”.
“Aku tahu mas cuaca hari ini sangat panas, tapi jangan terus membuatmu jadi amnesia. Kamu ga jatuh dari motor kan tadi.”
Aku merenung,barangkali memang aku yang terlalu lelah. Tapi belum pernah aku tertidur sampai lupa keadaan seperti ini. Biarlah, aku coba mencerna dan menerima keadaan. Kalo memang aku sudah menikah ya syukurlah, berarti doa ku terkabul. Kuhampiri Via yang masih sibuk didapurnya. Jilbab terusan warna putih ungu membalut tubuh berbaju sepadan itu.

“Iya Vi,mas kayaknya emang mas ngelindur tadi. Habis capek banget tadi”
“Tuh kan,sudah kuduga pasti mas kecapean. Yaudah istirahat lagi aja, tapi jangan tidur. Sore-sore pamali tidur”
“Iya-iya ih cerewet” balasku seperti biasa kulakukan kalau dia mulai ngomel.
“Salahnya sendiri ga pernah berubah kalo ga ngomel”
Aku nyengir,kulihat dia juga nyengir diseberang.

Senja mulai bergulir, sirine sebelum adzan magrib mulai ribut terdengar dari masjid. Aroma olahan Via dari dapurpun mulai tercium harum. Memang sedari tadi  aku tak menghampirinya ke dapur, masih sangsi.
“Ayo mas,buka dulu” tepuknya pada pundakku.
“Oh,iya. Ayo Vi” kamipun beranjak menuju dapur.
“Ini mas teh anget nya,monggo”
Kuseruput teh hangat itu,manis sepat.cocok dengan lidahku yang telah terbiasa.
“Tepat seperti yang buat” gombalku, Isriku hanya tersenyum.
“Mau langsung makan atau takjil dulu mas”tawarnya
Ku lihat sekeliling meja makan, sambal goreng ati dan petai, tumis labu siam dan sambal tempe. Semuanya makanan favoritku. Namun kuurungkan niat, makan sehabis magrib lebih enak karena akan kulahab sepuasnya.
“Takjil aja dulu deh, tumben lauknya kesukaan mas semua.Beli dimana”
“hehehe,mas. Mas masih keinget aku dulu yang masaknya Cuma telur dan nasi goreng ya. Ini semua masak sendiri lah mas, masak Cuma sambal sama tumisan harus ke warung, bentar ya aku ambil takjilnya dulu.” Dia berjalanan menuju oven. Mengambil satu loyang berisi Roti kecil-kecil yang berisi selai. Ada selai strawberry,Blueberry, dan nanas.

“Silahkan dicicipi mas” Tawarnya kembali dengan sepiring kecil roti manis hangat. Segera kukecap sepotong kecil roti itu.
“Uah, enak sekali. Tak kusangka kamu bisa buat kue seenak ini”
“hihihi,istri siapa dulu. Ayo dihabisin, cuz siap-siap tarawih”
Aku mengangguk, sungguh lezat masakan istriku ini. Sepotong roti telah tandas, cukup untuk mengganjal perut sampai habis tarawih.
**
“Dek?”
“Apa mas”
Suasana romantis tercipta di ruang keluarga malam itu, kesendirian kami berdua ditambah sah dan diridhoinya hubungan cinta ini membawa atmosfir damai. Semoga malaikat melihat.

“Kita telah berapa tahun menikah”
“Hehehe,amnesia lagi? Apa demam” jawabnya sambil cekikikan
“Enggak, Cuma masih ga percaya aja. Ini anugerah apa musibah” Sengaja kulontarkan itu untuk menjahilinya. Sepertinya berhasil.
“Agghhhh, ini silahkan rasakan bantal terbangku ini” jawabnya sambil menggebuk bantal ke mukaku.
“Aduh-aduh sori,Cuma bercanda tahu”
“Lagian bercandanya ga lucu”
“Oke deh,sebenarnya heran. Sudah berapa lama kita menikah, sampai-sampai kehebatan Via dalam urusan dapur naik sampai 3x lipat”
“Hehehe, bukankah itu permintaan mas sendiri sejak sebelum menikah. Sekarang aku sudah pandai malah bingung”
“Ya gak biasa aja,sepertinya sekarang juga semakin penurut”
“Surga istri adalah taat pada suami mas, mas mau aku masuk neraka?”
“Eit eit,ga gitu laah. Luar biasa,sekarang semakin alim saja”
“Siapa dulu suaminyaa,hahahaha” kami berdua tergelak.
“Oh iya, anak kita mana”
“Ha?” jawabnya bingung
“Anak kita Vi”
Via tersenyum lalu memegang perutnya. “Untuk saat ini dia masih di surga mas, lagian baru satu tahun menikah juga. Nanti kalo Allah sudah melihat kesiapan kita pasti dikasih kok”
“Benar katamu sayang, semoga dia mendengar keinginan orangtuanya ya.. ayo kita tidur dulu”
“Amin, ayo mas”

          **
Surga, bisa kusebut dua hari ini dengan sebutan itu. Damai,dengan seorang bidadari mendampingiku setiap waktu. Hari jadi berlalu dengan sangat cepat,tak terasa magribh kedua telah hadir kembali. Via pun masih membuat roti manis untuk hari ini, Cuma porsinya lebih banyak.

“Tumben buat rotinya banyak Vi, mau buat apa”
“Kan hari ini jatah kita buat memberi takjil buat berbuka mas, lagian sisa bahan-bahan kemarin masih banyak. Jadi kubuat saja sekalian. Lumayan dari pada beli”
“Iya sih,tapi kan jadi repot. Kenapa ga beli aja”
“Gak papa mas, buat mempertahankan skill memasak” jawabnya dengan senyum, tapi entah kenapa firasatku mengatakan sesuatu yang buruk.
“Nanti ke masjidnya bareng ya”
“Loh,mas ga mau buka dirumah dulu.”
“Enggak, pengin buka bareng-bareng di masjid”
“Wah,tumben nih mau buka di masjid. Biasanya males sama anak-anak kecil”
“Lagi tobat, biar cepet dapet momongan. Hahahaha”
“Dasar mupeng” jawabnya sedikit kesal.

            Jalanan sangat padat sore ini. Biasanya minggu-minggu terakhir bulan puasa aktivitas mulai berkurang. Namun tidak hari ini, bahkan kami sedikit kesulitan untuk sekedar menyeberang jalan raya menuju masjid.
“Hati-hati, masih ramai” jawabku sembari menggandeng tangannya. Dia tersenyum, anak-anak kecil bermain kejar-kejaran dipinggir jalan semakin membuat semrawut. Kadang mereka bermain sampai hampir ke badan jalan. Tiba-tiba melaju seorang pengendara sepeda motor dengan kencang, seorang anak yang berada di badan jalan itu guguptaksempat berlari.
“AWAS!!!!!” Via melepas genggaman tanganku dan berlari kearah jalan raya mendorong sang bocah kecil.
“BRUAAKKKKK.................!!!!”.

“VIIAAAAAAA!!!!!!”  Aku terbangun dari tidurku dengan terengah-engah, keringat mengucur dari seluruh pori-poriku. Segera kusebut asma Allah untuk menenangkan diri.
“Baru kulihat ada orang ngelindur di siang bolong” Tukas adikku tenang didepan komputer kamarku.
“Sialan” kujawab dengan lemparan bantal tidur,telak di kepalanya.
“Hei,sakit!”
“Kamu yang sakit, abangmu habis mimpi buruk tahu!” jawabku sambil berjalanan kekamar mandi. Kucari handphone ku segera. Ku pencet beberapa nomor di layar sentuh hapeku.

“Assalamualaikum,Via”
“ Wallaikumsalam,Waeyo oppa” jawabnya khas dengan bahasa negeri gingseng.
“Nggak apa-apa, Everything in good right”
“Ne, kenapa tiba-tiba tanya begitu”
“Nothing,just a little worry”
“Hiuh, Oppa pabo”
“Dont make me upset with your stupid word”
“ehehhehehe,,oke-oke oppa,forgive me”
“Oke,just push end button”

            Lega rasanya mengetahui bahwa semua baik-baik saja. Ternyata benar itu semua hanya mimpi. Aku berjalan ke arah dapur, ada beberapa dus berisi makanan yang teramat jelas dalam mimpi kemarin. “Roti manis, tersedia dalam tiga varian rasa: Strawberry, blueberry dan nanas”. Aku senyum-senyum memandang roti itu.

“Via,semoga roti ini semanis roti manis buatanmu”

Komentar