Selalu ada kata bergeming
Selalu ada caci seruak
Atau cibir nan nyinyir
Tatkala dulu anak-anak hendak memilihmu
Atau dipilih olehmu
Yah, Nampaknya memang suratan takdir
Dan Tuhan memang Maha Adil
Selalu beri Problema
Jadikan kalian insan nan Bijaksana
Dulu orang selalu berkata
Untuk apa masuk kesana
Bisa-bisa masa depanmu hilang sirna
aih, terlalu kejam, mungkin lebih tepat kukata samar saja
Bila kau dulu yang sempat merasa
Pelajari Sisi-sisi budaya
Mencoba interaksi dengan banyak pemilik belahan dunia
Pelajari seni lewat mimpi-mimpi
Belajar keragaman, santun dalam toleransi
Sekarang pikirpun melayang
Bukankah segala takdir milik Sang Hyang
Dapatkah manusia menghakimi
Sedang dia tak lebih dari noktah dititik sepi
Merenung pada satu masa silam
Ketika kami larut dalam kesendirian
Mencoba berdikari dengan cara kami sendiri
Membiarkan segala topan menghempas, dan karang menjulang
Suatu hari disudut itu
Tempat segala ceritera lahir dan bereproduksi
Akan berevolusi setelah waktu membiru
Tampakan buah manis dari mimpi-mimpi dahulu
Hei, para manusia diseantero sana
Akan kami katakan bahwa kami hidup
Raga kami pun utuh, jiwa kami masih kukuh
Kami relakan setengah badan kami kau hapus
Namun kami bukan lah bangsa ibrani
Kami masih mampu lanjutkan cita ini
Yogyakarta, 29 April 2014
Selalu ada caci seruak
Atau cibir nan nyinyir
Tatkala dulu anak-anak hendak memilihmu
Atau dipilih olehmu
Yah, Nampaknya memang suratan takdir
Dan Tuhan memang Maha Adil
Selalu beri Problema
Jadikan kalian insan nan Bijaksana
Dulu orang selalu berkata
Untuk apa masuk kesana
Bisa-bisa masa depanmu hilang sirna
aih, terlalu kejam, mungkin lebih tepat kukata samar saja
Bila kau dulu yang sempat merasa
Pelajari Sisi-sisi budaya
Mencoba interaksi dengan banyak pemilik belahan dunia
Pelajari seni lewat mimpi-mimpi
Belajar keragaman, santun dalam toleransi
Sekarang pikirpun melayang
Bukankah segala takdir milik Sang Hyang
Dapatkah manusia menghakimi
Sedang dia tak lebih dari noktah dititik sepi
Merenung pada satu masa silam
Ketika kami larut dalam kesendirian
Mencoba berdikari dengan cara kami sendiri
Membiarkan segala topan menghempas, dan karang menjulang
Suatu hari disudut itu
Tempat segala ceritera lahir dan bereproduksiAkan berevolusi setelah waktu membiru
Tampakan buah manis dari mimpi-mimpi dahulu
Hei, para manusia diseantero sana
Akan kami katakan bahwa kami hidup
Raga kami pun utuh, jiwa kami masih kukuh
Kami relakan setengah badan kami kau hapus
Namun kami bukan lah bangsa ibrani
Kami masih mampu lanjutkan cita ini
Yogyakarta, 29 April 2014
Komentar
Posting Komentar