Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Serpih

Lihat, apa yang menempel di badanmu kuat Buat jari mampu mengepal dan ototmu menempel erat Apakah dengan kuasamu itu, jemari, tangan, lengan serta seluruh sendimu mampu bergerak cepat ?                             Bilakah ia terlepas dari ragamu                             Masihkah mampu jari jemarimu mengatup rapat                             Lalu, matamu yang berbinar itu menjadi sayu                             Dan tungkaimu kian enggan unt...

TURBULENSI

Putar Kanan Kiri  Benar . Pusing Kanan Kiri Bising . Pasrah Kanan Kiri Salah . Pekok Kanan Kiri Goblok . . . S e n y a p . . . S e n y a p   . . . S e n y a p . . . L e n y a p . Mati Kanan Kiri Suci . LENGKAP Yogyakarta, 28 November 2016 (Ilustrasi : Ian.umces.edu)  

Jarak

Jarak, adalah ruang sela antara dua entitas entah itu berhubungan dengan lama maupun panjang sesuatu. Dalam setiap aktivitasnya, manusia tak akan lepas dari urusan jarak. Entah itu dalam artian ragawi maupun ruhani (jiwa/perasaan). Ketika orang akan bepergian kesuatu tempat, orang akan terlibat dengan jarak, ketika orang hendak menggapai sesuatu diapun akan berhubungan dengan jarak. Ketika menanti sesuatu, misalnya kelahiran anak, pernikahan, orang pun akan senantiasa bersentuhan terhadap jarak. Betapa dalamnya intervensi sebuah jarak karena sisi-sisi perasaan yang abstrak itu turut disinggung olehnya. Jarak menjadi sebuah tolak ukur emosi manusia dalam menghadapi sebuah kejadian bernama menunggu. Jarak dan Tunggu layaknya sebab dan akibat, dimana hampir setiap ada jarak maka otomatis ada kata tunggu dibelakangnya. Dan manusia akan selalu menjadi subyek dalam proses menunggu. Ya, dalam setiap jarak manusia akan selalu menunggu. Ketika dalam perjalanan jauh, terdapat ...

Buntu Yang Seru

Kebuntuan itu adalah sesuatu yang seru. Tak percaya, tanyakan kepada traveler, kepada backpacker, berapa banyak mereka yang perjalanannya semakin berarti ketika mereka menemukan kebuntuan dalam hidupnya. Kebuntuan adalah saudara sedarah dari kegagalan. Buntu tak mesti gagal, tetapi setiap kegagalan senantiasa diawali kebuntuan. Kegagalan yang efeknya saja sedemikian sakit masih bisa menemukan kita pada kesuksesan, apalagi kebuntuan.  Sayangnya, tak banyak manusia (terutama dinegara saya) yang faham menikmati indahnya kebuntuan. Benar,  teramat banyak mereka yang lekas menyerah didera kebuntuan. Ketika sekripsi mereka menemui kebuntuan, mereka buru-buru merutuk. Ketika proyek mereka, urusan mereka menemui kebuntuan, mereka lekas mengumpat. Teman, kebuntuan bukan hal musykil untuk kita menguraikan. Teori menghadapi kebuntuan sebenarnya seperti teori kita tentang cinta sambel (saudara tiri lagi, kali ini dengan taubat sambel). Pertama kita harus menemukan rasa suk...

Tipis-tipis

Sekata-sekata kalimat itu terangkai Sebaris-sebaris karangan itu teruntai Berdetik-detik, ceritera berkembang membiak jadi simulakra yang mencakar otak Lambat laun, membesar jadi penyamun Mencuri rona wajahmu dari aku Yogyakarta, 27 Juli 2016

Kisah Bhineka Tunggal Ika Pada Trilogi Film Merdeka

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (QS Ar-rum:22).   Sebagaimana disebutkan dalam ayat suci Al-Quran diatas, Allah SWT memang telah menakdirkan bagi manusia untuk memiliki banyak ciri-ciri khusus sebagai perlambang ke-esaan Nya. Manusia diciptakan dengan berbagai kekhasan masing-masing, seperti memiliki kulit gelap, kulit terang, hidung yang mancung, mata yang lebar ataupun yang sipit dan berbagai ciri-ciri yang lain. Tak hanya ciri-ciri secara fisik, manusia pun memiliki kekhasan dalam keseharian hidup mereka, letak geografis, tingkat ketersediaan sumber daya alam, ancaman-ancaman turut mempengaruhi cara-mereka dalam berfikir, bertahan hidup serta gaya sosial mereka. Itulah mengapa pada akhirnya budaya yang berkembang di dunia ini menjadi sangat beragam. Jangankan berbatas pulau, masih dal...

Menulis dalam gundah, mencoba istiqomah

Setia, kata-kata super simpel yang hanya terdiri dari lima huruf dengan 2 konsonan dan 3 vokal. S-E-T-I-A, demikianlah mengejanya, terlalu sederhana bukan. Tetapi kesederhanaan ternyata adalah kerumitan yang paling wahid, terlebih untuk kata yang memiliki parameter abstrak. Sebut sajalah sebagai contoh yaitu IKHLAS dan CINTA. sudahkah kita dapati kedalaman maknanya ? atau kita hanya sering mengumbarnya dalam lisan tanpa menyelami hakikatnya ? Demikian pula dengan setia. Manusia teramat meremehkan arti kesetiaan, diminta ia untuk setia berdoa kepada Tuhannya tetapi berhenti ditengah jalan, Berusaha untuk selalu mencintai pasangannya hingga uzur menjemput tetapi ia berpaling kepada hati yang lain, yang terakhir diminta untuk berusaha hingga titik akhir, tetapi ia mangkir. Sungguh sederhana itu ternyata rumit. Termasuk daku dalam menulis Dahulu pernah berjanji untuk selalu setia menulis di Blog, tetapi nyatanya aku kabur. Entahlah, terlalu banyak faktor. Salah satunya adalah terlen...