Langsung ke konten utama

Menulis dalam gundah, mencoba istiqomah

Setia, kata-kata super simpel yang hanya terdiri dari lima huruf dengan 2 konsonan dan 3 vokal. S-E-T-I-A, demikianlah mengejanya, terlalu sederhana bukan. Tetapi kesederhanaan ternyata adalah kerumitan yang paling wahid, terlebih untuk kata yang memiliki parameter abstrak. Sebut sajalah sebagai contoh yaitu IKHLAS dan CINTA. sudahkah kita dapati kedalaman maknanya ? atau kita hanya sering mengumbarnya dalam lisan tanpa menyelami hakikatnya ? Demikian pula dengan setia. Manusia teramat meremehkan arti kesetiaan, diminta ia untuk setia berdoa kepada Tuhannya tetapi berhenti ditengah jalan, Berusaha untuk selalu mencintai pasangannya hingga uzur menjemput tetapi ia berpaling kepada hati yang lain, yang terakhir diminta untuk berusaha hingga titik akhir, tetapi ia mangkir. Sungguh sederhana itu ternyata rumit.

Termasuk daku dalam menulis
Dahulu pernah berjanji untuk selalu setia menulis di Blog, tetapi nyatanya aku kabur. Entahlah, terlalu banyak faktor. Salah satunya adalah terlena dengan saudara sepupu si laman biru. Makin hari, makin kudapati pula ia terlalu sempit. bahkan rapuh. Pada akhirnya kucoba untuk mencari jalan baru. Agar ceritera yang hinggap tetap mampu kukumpulkan dalam kata-kata.

Dan ini menjadi pelabuhan (kembali)

(Ilustrasi : doc.pribadi penulis)

Komentar