“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna
kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi
orang-orang yang mengetahui” (QS Ar-rum:22).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat suci Al-Quran diatas, Allah SWT memang
telah menakdirkan bagi manusia untuk memiliki banyak ciri-ciri khusus sebagai
perlambang ke-esaan Nya. Manusia diciptakan dengan berbagai kekhasan
masing-masing, seperti memiliki kulit gelap, kulit terang, hidung yang mancung,
mata yang lebar ataupun yang sipit dan berbagai ciri-ciri yang lain. Tak hanya
ciri-ciri secara fisik, manusia pun memiliki kekhasan dalam keseharian hidup
mereka, letak geografis, tingkat ketersediaan sumber daya alam, ancaman-ancaman
turut mempengaruhi cara-mereka dalam berfikir, bertahan hidup serta gaya sosial
mereka. Itulah mengapa pada akhirnya budaya yang berkembang di dunia ini menjadi
sangat beragam. Jangankan berbatas pulau, masih dalam satu wilayah tetapi
berbeda kontur tanah pun dapat mempengaruhi perkembangan budaya suatu
masyarakat. Ambilah saja contoh budaya masyarakat Jawa di daerah Solo dan juga
Banyumas, disini dapat terlihat perbedaan-perbedaan yang cukup besar tertutama
dalam segi dialek yang digunakan.
Indonesia,
negara kepualauan terbesar didunia. Berada diantara dua samudra yaitu Hindia
dan Pasifik, sebagai pertemuan dua benua yaitu Asia dan Australia, serta
memiliki hampir seluruh relief kenampakan bumi dan beribu anak suku ini
tentulah memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan budayanya.
Merujuk pada harian KOMPAS tahun 2012,terdapat kurang lebih 546 bahasa daerah
yang digunakan dari Sabang sampai Merauke. Hal ini belum termasuk unsur-unsur
budaya yang lain seperti gaya upacara-upacara adat, rumah adat, norma dan nilai
tradisional dan rumah adat. Tentu saja ini membuktikan betapa kayanya Indonesia
akan budaya-budaya lokal. Walaupun Kekayaan khasanah budaya lokal begitu
berlimpah ruah, pada kenyataannya tidak semua itu memberikan dampak positif
bagi masyarakat Indonesia. Masih sering ditemui kasus-kasus rasial baik dalam
skala kecil maupun besar. Seringkali kita temui banyak mitos dan stigma-stigma
negatif yang didengungkan masyarakat umum semisal orang Jawa tidak boleh
menikahi suku Sunda, orang Padang kebanyakan Pelit, orang-orang dari timur
Indonesia anarkis dan tidak berbudi, orang jawa terlalu lemah dan bertele-tele
dan masih banyak stigma-stigma lain. Hal-hal tersebut pada akhirnya seringkali
menimbulkan masalah yang lebih besar, sebagai contoh saja kasus rasial yang
terjadi pada mahasiswa Papua yang terjadi akhir-akhir ini di Yogyakarta.
Stigma
negatif serta bermacam isu rasial diatas tentunya menorehkan noda kepada kita,
negeri yang terkenal ramah tamah dan memiliki semangat gotong-royong ini
ternyata memiliki sikap intoleran yang masih cukup besar. Hal demikian tentu
menyalahi salah satu prinsip kehidupan bermasyarakat Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Walaupun demikian,
tidak berarti semangat gotong-royong telah pudar sama sekali. Banyak Pihak yang
terus berupaya mengembalikan citra baik bangsa ini dalam berbagai mode, salah
satunya dengan media film.
Trilogi
film Merdeka adalah salah satu film semi documenter yang di-launching pada 13 Agustus 2009 oleh
Media Desa Indonesia dan Margete Studio milik Rob and Allyn bersaudara. Film
ini memberikan gambaran kepada kita betapa semangat persatuan dapat menjadi
senjata utama bagi bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah. Trilogi yang
terdiri dari tiga film bersambung yaitu Merah Putih (2009), Darah Garudha
(2010), dan Hati Merdeka (2011) ini begitu kental dengan nuansa patriotisme dan
cinta tanah air. Terlebih lagi, pesan-pesan moral seperti rasa toleransi dan
pemahaman lintas budaya menjadi nilai tambah bagi film ini untuk ditonton.
Film
trilogi Merdeka mengambil latar belakang kondisi Indonesia dimasa revolusi
fisik sekitar tahun 1945 hingga tahun 1950. Mengisahkan sebuah pasukan khusus
yang terbentuk secara tidak sengaja di sebuah sekolah militer di pedalaman Jawa
Tengah. Menjadi sangat menarik ketika semua anggota dari tim khusus tersebut memiliki
latar belakang budaya yang berbeda-beda. Sang tokoh utama Amir adalah seorang
kapten yang berasal dari Jawa dan beragama Islam. Amir memiliki beberapa
anggota yaitu Thomas, seorang pemeluk katolik dari Sulawesi; Dayan yang berasal
dari Bali dan beragama Hindu; Marius, seorang keturunan Indonesia Belanda dari
Jakarta dan Senja, gadis kristen putri seorang tuan tanah dari Jawa. Semenjak
mula terbentuknya, benturan-benturan budaya selalu menjadi masalah di tim ini.
Sifat frontal Thomas sebagai orang Sulawesi selalu berbenturan dengan Marius
yang selalu sarkastik dengan gaya khas anak metropolisnya. Beruntunglah Dayan
dan Amir selalu bisa menjadi penengah keduanya. Bukan hanya masalah personal
saja yang tergambar dalam film ini, beberapa contoh kasus diskriminasi juga
diperlihatkan dibagian awal film, seperti misalnya ketika Thomas dan Dayan
selalu dituduh bersalah karena mereka adalah penganut nasrani dan hindu serta
hasutan kepada Kapten Amir oleh mata-mata Belanda untuk tidak percaya dengan
Thomas dan Dayan di pertengahan film Darah Garudha (Film Merdeka ke 2).
Meskipun
digambarkan benturan-benturan kebudayaan disetiap konflik film, tetapi pada
fase resolution scene penerimaan
kebudayaan lain (Cross Cultural
Understanding) mampu dihadirkan secara bagus di setiap film. Scene yang paling menonjolkan toleransi
dan Cross Cultural Understanding ada
pada saat keseluruhan anggota tim berdoa bersama ketika Marius tengah terluka
parah akibat tikaman bayonet Belanda. Saat itu Kapten Amir melakukan sholat,
Dayan melakukan peribadatan dengan sesaji dan mengempaskan air suci, Thomas
berdoa dengan memegang salib dan Senja berdoa dengan tangan menelungkup. Pada
akhir film Hati Merdeka, adegan kerja sama antar budaya ditunjukan dengan
bekerjasamanya gerilyawan Bali yang mayoritas Hindu dengan pasukan Kapten Amir
sehingga mereka mampu mengusir penjajah Belanda.
Demikian
ulasan mengenai pemahaman lintas budaya pada trilogy film Merdeka. Walaupun
film ini termasuk dalam kategori fiksi namun segala nilai dan pesan moral
(terutama wawasan Bhineka Tunggal Ika)
masihlah sangat kredibel untuk diresapi dan diamalkan pada saat-saat sekarang.
Sifat toleransi dan terbuka akan perbedaan sungguh sangat dibutuhkan dalam
krisis kepercayaan seperti yang terjadi di Indonesia pada saat ini, tentunya
dalam upaya membangkitkan kembali kesatuan dan persatuan bangsa.
“Bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh”
(Tulisan ini adalah tugas mata kuliah Cross Cultural Understanding, Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan)

Komentar
Posting Komentar