Jarak, adalah ruang sela antara dua entitas entah itu berhubungan dengan lama maupun panjang sesuatu. Dalam setiap aktivitasnya, manusia tak akan lepas dari urusan jarak. Entah itu dalam artian ragawi maupun ruhani (jiwa/perasaan). Ketika orang akan bepergian kesuatu tempat, orang akan terlibat dengan jarak, ketika orang hendak menggapai sesuatu diapun akan berhubungan dengan jarak. Ketika menanti sesuatu, misalnya kelahiran anak, pernikahan, orang pun akan senantiasa bersentuhan terhadap jarak. Betapa dalamnya intervensi sebuah jarak karena sisi-sisi perasaan yang abstrak itu turut disinggung olehnya.
Jarak menjadi sebuah tolak ukur emosi manusia dalam menghadapi sebuah kejadian bernama menunggu. Jarak dan Tunggu layaknya sebab dan akibat, dimana hampir setiap ada jarak maka otomatis ada kata tunggu dibelakangnya. Dan manusia akan selalu menjadi subyek dalam proses menunggu. Ya, dalam setiap jarak manusia akan selalu menunggu.
Ketika dalam perjalanan jauh, terdapat jarak yang memisahkan kedua belah tujuan. Bila waktu itu manusia terlibat dalam perjalanan maka ia akan menunggu, menunggu agar jarak itu kian lekang. Secara tak sadar pun emosi manusia mempengaruhi proses menunggu itu. Bila ia adalah seorang pengendara maka ada kemungkinan dua emosi yang turut andil, bisa sabar atau tergesa-gesa. Bagi seorang pengendara yang sabar maka ia akan berdamai dengan jarak itu. Berhati-hati dalam perjalanan dan menikmati setiap jengkal jarak yang terlewati. Bila ia tergesa-gesa, maka ia cenderung berada dalam kepanikan, rasa sabar terhadap jarak hilang. Tujuannya hanyalah mendapati jarak itu lekang entah bagaimanapun caranya, hal demikian bisa menjadi celaka karena mengabaikan banyak hal.
Para pencari nafkah juga kaum yang berurusan dengan jarak. Antara dia dan rejeki yang akan didapat. Ada banyak kategori pencari nafkah, dia yang dalam proses mencari nafkah maupun dalam proses mencari "sumber" nafkah. Bagi para pencari nafkah, jarak antara ia dan rezekinya menjadi ruang tunggu yang amat mengaduk emosi. Ketika ia berhasil menggulung jarak antara ia dan rejeki, dan juga ketika jarak ia dan rejeki tak kunjung tergulung. Lagi-lagi sabar menjadi kunci, bukan grusa-grusu apalagi rasa tamak. Para pencari "sumber" nafkah tentunya teramat paham dengan arti kesabaran ini. Namun tak dapat kita pungkiri bersama, tingkat kesabaran manusia amatlah berbeda-beda. Terdapat manusia-manusia yang bisa berteman dengan baik dengan si sabar, bahkan menjadi karib. Tetapi banyak pula mereka yang merelakan berpisah dengan sabar, tak tahan.
Lain para musafir dan pencari nafkah, lain pula sepasang kekasih. Cinta adalah sesuatu yang logis, maka ia tak melulu bersifat utopis. Cinta terkadang berurusan dengan jarak. Membuat ruang tunggu antara dua kekasih ini tak hanya untuk perjumpaan, tetapi juga harapan, hubungan seperti ini sering disebut sebagai Hubungan Jarak Jauh (Long Distance Relationship) . Cinta yang berjarak tak kalah mendebarkan. Emosi tumpah ruah didalamnya, kesabaran, kepercayaan, kerinduan dan bermacam emosi lain baik itu suka duka. Tak banyak dua sejoli yang kuat menghadapi hubungan berjarak. Banyak diantaranya yang kandas dengan bermacam dalih dan sebab. Berkarib dengan emosi adalah kunci mempertahankan hubungan dalam jarak yang terbentang.
Jarak sudah barang tentu seperti qorin bagi kita. Tak tersentuh tetapi selalu ada. Jarak tak akan berubah, ia tetap akan seperti itu, diam tetapi menyakitkan. Kitalah yang punya kuasa membentuknya, entah dengan bijak atau fasik, dengan sabar atau tergesa, dengan diam atau berjalan.
Jarak bukan untuk ditangisi dalam diam, dia untuk digulung dengan segenap kesabaran
Yogyakarta, 28 November 2016

Walah bapere por...
BalasHapus